MIE REBUS, MIE KUAH ATAU MIE LENDIR

Selain “Gonggong” ada kuliner lainnya di Tanjungpinang yang menarik, enak dan lezat. Dan biasanya hanya untuk hidangan di pagi hari sampai menjelang siang. Makanan yang enak, lezat dan murah ini adalah Mie Rebus, Mie Kuah atau Mie Lendir. Bahannya dibuat dari mie kuning, tauge, telor rebus dan dicampur kuah kacang, ada cabe untuk yang doyan pedas, dan dapat dijuga ditambah kecap, bawang goreng pun tidak ketinggalan. Kalau mau coba, ada beberapa yang jual di kedai-kedai kopi di Jalan Bintan.


Masih jelas dalam ingatan ketika kecil dulu, makanan ini selalu dinikmati pada pagi hari dan selalu disebut dengan “Mie Rebus”. Ada seorang temen mengatakan, orang-orang tua dulu ada yang menyebutnya Mie Kuah. Namun sekarang ini yang terkenal justru “Mie Lendir”, sampai seorang temen di Pekanbaru bilang, ada jual Mie Lendir Tanjungpinang di Pekanbaru, namun sang temen tidak mau mencobanya karena terkesan jorok dari namanya “Mie Lendir”.

Sang temen tidak salah, “Lendir” dapat diartikan sesuatu yang jorok, dan entah darimana asal mula kata “lendir” ini bisa timbul. Ini tidak boleh didiamkan, harus diluruskan. Pemerintah Kota Tanjungpinang harus ambil tindakan, karena kuliner yang satu ini sudah cukup terkenal, sehingga ada ujar-ujar mengatakan “kalau belum mencobanya belum sampai di Tanjungpinang”, khususnya Dinas Pariwisata Kota Tanjungpinang dapat memberikan sosialisasi kepada masyarakat umum apa seharusnya sebutan untuk kuliner ini.

Selanjutnya......

PELAJAR SMU DIPECAT GARA-GARA FACEBOOK

Facebook (FB) salah satu jejaringan sosial yang banyak digemari, di Indonesia mungkin sudah diatas belasan juta pengguna FB, dan pemakainya pun dari berbagai kalangan, dari ABG sampai orang tua, tetapi jangan sampai kemajuan teknologi ini menjerat diri sendiri. Inilah yang dialami oleh siswa Sekolah Menengah Umum atau SMA di Tanjungpinang. Karena “curahan” di FB yang telah menyinggung seseorang guru akhirnya siswa tersebut dipecat alias dikeluarkan. Dari informasi yang beredar, keputusan mengeluarkan siswa tersebut diamini oleh Diknas bersangkutan.


Sekolah tempat mendidik anak menjadi insan yang berguna, membentuk akhlak siswa. Pemecatan langsung dapat memberikan efek ketidaknyamanan bersekolah. Dari kasus ini terlihat akhlak atau budi pekerti siswa sangat rendah, rasa hormat kepada guru tidak ada, dan kemajuan teknologi juga harus cepat di tanggapi oleh guru. FB bukan barang baru, seharusnya guru Informasi Teknologi (Guru Komputer) harus memahami ini, dan memberikan pemahaman kepada siswa penggunaan FB ini dan jeratan hukum yang akan didapat bila salah menggunakan teknologi informasi.

Akan tetapi, Pemerintah atau instansi (Dewan Pendidikan) atau Dewan sekalipun jangan tinggal diam, walau bagaimanapun keputusan memecat siswa harus dengan alasan yang jelas. Kasus ini harus diproses, tinjau ulang keputusan yang dikeluarkan mungkin perlu, dan guru yang merasa “terhina”, berikut Kepala Sekolah dan Kepala Dinas terkait, dipanggil untuk diminta kejelasannya dan tanggungjawabnya, apabila ada kesalahan pengambilan keputusan harus maka sanksi dapat diberikan dan apabila kesalahan terdapat pada siswa maka keputusan yang diambil dapat dibilang tepat.

Selanjutnya......

KEMBALIAN PAKAI PERMEN

Tahun 2009 yang lalu, saya pernah menulis di blog tentang kembalian dengan permen di beberapa swalayan di Kota Tanjungpinang dan sampai saat ini masih tetap tersimpan permen di kasir saat akan membayar sebagai pengganti pecahan Rp.25,- Rp.50, Rp. 100,- dan Rp. 500,- ada yang bertanya lebih dulu mau dikembalikan dengan permen dan ada yang tidak.

Disalah satu harian media surat kabar, pernah warga Tanjungpinang mempertanyakan masalah ini melalui media sms kepada Walikota Tanjungpinang, namun jawaban yang diberikan sangat mengecewakan dengan mengatakan bahwa, apabila saat akan membayar kasir akan menanyakan dikembalikan dengan permen atau tidak, semoga yang menjawab ini bukan seorang Walikota tetapi hanya seorang assisten atau bagian lain.


Dan sekali lagi soal pengembalian pakai permen ini mengemuka disalah satu media surat kabar di Kota Tanjungpinang, dan yang berbicara ini adalah seorang wakil rakyat yang katanya pernah dikembalikan dengan permen. Dan pengembalian dengan permen jelas-jelas melanggar Undang-Undang, karena pertukaran yang sah hanya dengan menggunakan uang.

Jadi mari ditunggu langkah konkrit dari Pemerintah Kota Tanjungpinang beserta para wakil rakyat untuk menindak swalayan-swalayan yang mengembalikan pembayaran dengan menggunakan permen dan bukan hanya obrolan di media.

Selanjutnya......

MASIH DIBOHONGI

Kata petinggi PLN Tanjungpinang pada tanggal 17 Januari 2010, krisis listrik sudah dapat teratasi, pemadaman bergilir yang dari semula 3-5 jam (keterlaluan) dapat ditekan menjadi 2 jam (masih tetap mati ) namun kenyataan di lapangan hanya ucapan manis dibibir, jadwal pemadaman bergilir 3 jam masih diumumkan di media massa.


Kontraktor yang menang tender punca masalah, mesin pembangkit yang disewa masih belum sampai ditempat, dan ini jelas sekali PLN dengan menyalahkan kontraktor karena keterlambatan ini, bentuk sanksi dari keterlambatan ini seperti apa, hanya PLN pusat yang tahu, kalau berupa uang, sangat menguntungkan PLN, sedangkan masyarakat tetap menikmati pemadaman.

Demontrasi yang kemaren seharusnya sekarang ini dilakukan setelah janji PLN tanggal 17 Januari 2010 ini tidak terlaksana, dan tuntutan demo pun jelas, termasuk boikot pembayaran listrik atau bahkkan class action seperti yang disarankan Gubernur Kepri.

Selanjutnya......

TINGGAL PAJANGAN

Beberapa tahun yang lalu niat Pemerintah Kota untuk menambah keindahan kota patut di acungi jempol, mungkin untuk tidak dikatakan ketinggalan dalam perkembangan era digital, proyek billboard pun diadakan. Dan akhirnya dibangun 2 billboard yaitu di Jalan Hang Tuah (pinggir laut) yang selalu ramai dilalui masyarakat juga turis asing dan Jl. Tugu Pahlawan. Awal berdiri dapat disaksikan tulisan-tulisan dengan warna dan animasi gerakan yang cantik apalagi bila dilihat pada malam hari. Dan keindahan itu dapat disaksikan dengan waktu yang tidak lama.


Sekarang ini, billboard yang dibangun hanya sebagai pajangan di jalan, tidak ada animasi tulisan yang keluar, alias mati total. Entah apa penyebabnya, mungkin PLN yang byar pret, atau kondisi billboardnya yang rusak. Namun proyek yang menghabiskan dana puluhan atau bahkan ratusan juta ini sangat disayangkan berdiri kokoh begitu saja sebagai pajangan kota. Seharusnya dengan proyek digital ini, pemerintah kota mempunyai banyak kesempatan untuk memberitahukan kepada masyarakat tentang perkembangan kota dan lainnya.

Harapan kepada Pemerintah Kota semoga secepatnya kembali mengaktifkan billboard yang sudah mati beberapa tahun ini, sehingga masyarakat dapat merasakan manfaatnya, dan bukan dibiarkan begitu saja menjadi pajangan.

Selanjutnya......

CAT POHON

Akhir tahun 2009, Pemerintah Kota Tanjungpinang membuat kota Tanjungpinang semakin indah dan menarik dengan mengecat pohon-pohon yang berada di pinggir laut dan juga taman-taman disekitar kota yang dapat dilihat orang bila melewatinya. Dari yang batang pohonya kecil sampai batang pohonnya besar.


Pohon yang dicat dengan 3 warna yaitu, hijau, hitam dan orange ini tidak tahu apa makna dibalik warna tersebut. Namun proyek pengecetan yang dilakukan di akhir tahun ini menimbulkan pertanyaan, karena selain menghabiskan dana jutaan (puluhan juta sampai tidak ya?????), juga dipertanyakan untuk apa pohon dicat yang dilakukan menjelang akhir tahun. Sehingga sempat terpikir hanya untuk menghabiskan anggaran. Yang lebih menimbulkan keheranan lagi, untuk dana pengecetan pohon yang jutaan rupiah ini dapat terlaksana namun bantuan untuk olahraga tidak ada, dengan alasan dana bantuan olahraga sudah habis.

Akan tetapi diambil sisi positifnya, demi keindahan kota tidak mengapa menghabiskan puluhan juta rupiah sehingga niat untuk tetap mendapat dan mempertahankan ADIPURA tercapai.



Selanjutnya......

BERUBAH JADI UNIVERSITAS NEGERI

Kampus Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Provinsi Kepulauan Riau mengalami perubahan yang cukup drastis. Hanya dalam waktu 2 tahun dan pada tanggal 16 Januari 2010 telah diserahkan aset kampus kepada Departemen Pendidikan Nasional dan UMRAH pun berubah menjadi Universitas Negeri. Walaupun belum terdengar atau selentingan sepak terjang alumni UMRAH di masyarakat, namun perjuangan untuk menegerikan kampus patut di acungi jembol. Bisa dibayangkan bagaimana para pejabat atau elite pejabat memeras otak, berkorban waktu dan sudah tentunya dana. Untuk pendiriannya saja sudah habis ratusan juta, apalagi berjuang untuk menjadikan kampus negeri dalam waktu singkat 2 tahun.


Sebagai warga Kepri, sudah seharusnya kita berbangga kepada para pembesar kepri yang sudah berjuang mewujudkan impian mendirikan kampus negeri, sehingga kampus UMRAH dapat diminati masyarakat kepri dan luar kepri.

Selanjutnya......

PLN DI DEMO

PLN Tanjungpinang kembali di datangi massa berbagai kalangan, dari massa partai politik, politikus (anggota dewan), cendikiawan, tokoh masyarakat, tidak ketinggalan juga ibu-ibu. Demontrasi kali ini adalah lanjutan dari demo pertama, yang mana pada demo pertama PLN berjanji akan melakukan pemadaman bergilir selama 2 jam dalam sehari, namun dalam kenyataan hanya berlangsung beberapa minggu kembali PLN melakukan pemadaman selama 3 jam, bahkan ada yang lebih denga alasan mesin sakit (rusak).




Demo kali ini, kembali masyarakat menuntut PLN untuk tidak melakukan pemadaman bergilir lagi, tapi harapan itu sepertinya jauh sekali. Pemprov Kepri yang berusaha membantu dengan mengikuti lelang pengadaan mesin pembangkit ternyata keoq di negeri sendiri (sungguh ironis), mesin pembangkit sewaan yang katanya dari Singapore pun tidak dapat memberikan jaminan Ibukota Prov, Kepri akan terang benderang, karena kapasitas mesin yang kurang dan harus juga dibantu dengan mesin-mesin tuek (sudah sangat tua, karena sakitan melulu….terlalu), dan apabila salah satu mesin tuek ini kembali tersunggkur maka pemadaman bergilir kembali lagi (kata orang PLN-nya).


Disinilah lemahnya negeri yang hanya mengandalkan PLN sebagai sumber listrik satu-satunya, sebagai bukti kekuasaan, PLN menunjukkan tajinya dengan melakukan pemadaman hampir lebih 8 jam selama demo berlangsung (acungan jempol buat PLN !), pemerintah mungkin sudah seharusnya membuka pintu untuk investor membangun pembangkit listrik dan berkata “Get out PLN”. Dan tidak perlu jauh-jauh mencari contoh, cukup melihat daerah wisata Lagoi di Bintan yang tidak terpengaruh dengan PLN, apalagi PDAM, pariwisata tetap jalan.

Selanjutnya......

Tinggalkan Jejak

 

Pengunjung

Ikut Donk......

Tukaran link ....



Silahkan Copy Kode Dibawah Gambar Untuk Tukar Link


Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Bintan Island Blogger Community

Tg.Pinang--Kepulauan Riau