Tahun 2007 yang lalu Pemerintah Kota Tanjungpinang mendapatkan bantuan Personal Computer (PC) dari salah satu LSM/NGO dari Norwegia yang menamakan diri mereka School For Life (S4L), namun lain yang diharapkan lain yang dapat, ternyata mereka memberikan PC yang berbasis Pentium II dan III, dan tidak bisa digunakan lagi, yang sekarang mungkin sudah jadi ‘bangkai’. Kesuksesan mereka mengirim PC ini sama saja dengan kesuksesan membuang sampah ke Tanjungpinang.
Selain bantuan PC tersebut, S4L juga membuat program pengajaran, dan saya terlibat sebagai salah satu pengajar dan dibekali dengan Laptop yang juga berbasis Pentium III, dan materi yang diberikan adalah linux dengan sistem operasi menggunakan U-Buntu. Namun karena masih awam dan tidak familiar, peminatnya tidak begitu banyak, dan karena terikat kontrak 2 bulan, dan pembayaran gaji 2 minggu sekali. Dan pengajaran tidak berjalan dengan lancar, peminat kurang, bahkan tidak jarang kelas tidak ada orang, karena terikat kontrak maka saya harus tetap hadir (professional), dan ketika saya minta pembayaran gaji untuk 2 minggu pertama dikatakan, nanti saja tunggu 1 bulan penuh (S4L melanggar kontrak sendiri). Dan setelah kontrak selesai, ternyata gaji tidak dibayar sama sekali selama 2 bulan, dan dengan terpaksa laptop menjadi jaminan.
Tahun 2009, kembali S4L ke Tanjungpinang dengan alasan ingin memperbaiki kembali proyek yang terbengkalai, dan kali ini langsung turun Knut Foseide yang mengaku sebagai President-nya S4L. Kerjasama disepakati, dan kembali saya dilibatkan kepada program pengajaran setelah terlebih dahulu dibayar gaji yang 2 tahun lalu belum dibayarkan. Program pengajaran ini diberikan kepada guru-guru SD yang tidak mengerti komputer. Program pengajaran berbasis Windows dengan materi Ms. Word dan Ms. Excel. Program pengajaran hanya berlangsung selama 1 tahun, diberhentikan dengan alasan akan dibangun perpustakaan di lingkungan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Tanjungpinang dengan biaya Rp. 150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah), dan gaji tetap dibayarkan.
Kenyataannya S4L hanya manis dibibir, semua yang dijanjikan hanya tipu belaka, tidak ada realisasinya sama sekali, hanya janji-janji manis akan dibayar namun semuanya nol besar, dana untuk bangun perpustakaan tidak ada, gaji saya selama 5 (lima) bulan juga tidak dibayar dan dan sangat disesalkan juga Pemerintah Kota Tanjungpinang tdak mengambil tindakan sama sekali, hanya mendiamkan saja permasalahan ini.
Melihat permasalahan ini saya mengirimkan e-mail kepada Kedutaan Besar Norwegia di Jakarta, Kementerian Luar Negeri Norwegia, Kedutaan Indonesia di Oslo (Norway), Departemen Hukum dan Ham memaparkan permasalahan yang dihadapi, dan hasil yang saya dapat adalah respond dari Kementerian Luar Negeri Norwegia yang meminta langsung nomor kontak warganya, dan Kedutaan Besar Norwegia yang memberikan jawaban memberi saran untuk diselesaikan secara hukum (menurut pemikiran saya hanya berusaha melindungi warganya).
Dari Indonesia tidak ada sama sekali jawaban, baik dari Kedutaan Besar Indonesia di Oslo maupun dari Kementerian Hukum dan Ham, percuma saja mereka memasang e-mail sebagai nomor kontak, namun tidak ada respon sama sekali, jadi dapat dibandingkan kinerja aparat Indonesia dengan pihak asing, dan saya tidak mengharap banyak dari pihak Indonesia akan permasalahan ini. Dan dengan tidak tanggapnya aparat Indonesia ini ditakutkan nanti mereka (S4L) akan terus merajalela di Indonesia, memperkaya diri sendiri dengan memanfaatkan ketidakberesan kinerja aparat Indonesia.
Semoga S4L tidak lagi membuat program-program tidak jelas di negara Indonesia.










0 komentar:
Poskan Komentar